Pentingnya Forensic Accounting bagi Auditor

Selama 45 tahun berkecimpung di dunia audit keuangan negara , penulis beruntung secara tidak langsung sempat mengamati hiruk pikuk perkembangan audit di Indonesia . Diawal tahun 1960- an Jawatan Akuntan Negara , instansi dimana penulis mengabdi , audit atau lebih lazim disebut pemeriksaan adalah aktivitas reperformance yaitu melakukan pengamatan, penghitungan dan pengecekan kembali atas transaksi –transaksi yang bermuara pada laporan neraca dan rugi/laba. Konsep audit yang diajarkan kepada para calon pengawas di lembaga pendidikan milik Jawatan Akuntan Negara masih mengadopsi konsep tuan Kontrolir di jaman Belanda . Audit adalah mencari pencatatan mana yang salah dan melakukan diteksi ( dan ini yang terpenting ) kemungkinan terjadinya lubang-lubang kecurangan atau fraud ( fraude = bahasa Belanda ).
Jaman berubah , industri di berbagai sektor bertambah ragamnya , transaksi perusahaan /korporasi menjadi luar biasa volumenya , mengakibatkan tidak memungkinkan lagi pengawas melakukan reperformance . Bersamaan waktu itu konsep pengetahuan /ilmu audit dan akuntansi berpindah kiblatnya dari Belanda ke USA yang ditandai dengan pengiriman dosen perguruan tinggi ke berbagi negara bagian di USA, dan audit laporan keuangan bergeser seratus persen dari konsep Belanda ( pada waktu itu ) yaitu memberikan keyakinan bahwa laporan keuangan telah dilakukan secara right presented menjadi konsep USA yang kita kenal sekarang ini yakni fairly presented .
Kurikulum perguruan tinggi fakultas ekonomi jurusan akuntansi di Indonesia juga mulai mengadop teori-teori akuntansi dan auditing versi baru , sementara masyarakat awam masih terpaku dengan paradigma lama bahwa audit tidak ada lain kecuali aktivitas mendeteksi kecurangan ( fraud ) . Kesenjangan harapan ( expectation gap ) antara yang diharapkan oleh masyarakat awam dengan praktek audit atas laporan keuangan yang terjadi membuat masyarakat nampaknya menjadi bingung . Pertanyaan yang selalu muncul adalah mengapa auditor sudah melaksanakan tugasnya dengan memberikan opini atas laporan keuangan bahkan dengan predikat wajar tanpa pengecualian , namun tidak jarang pada akhirnya memunculkan kasus-kasus kecurangan yang tidak terdeteksi oleh auditor sebelumnya . Ironisnis rasanya entitas /perusahaan yang sudah mendapat clean opinion dari auditor namun tidak lama kemudian perusahaan tersebut kolaps/bangkrut. Malapetaka krisis perbankan tahun 1997 di Indonesia dan mega skandal Enron pada tahun 2002 adalah contoh konkrit skala lokal dan global yang mengakibatkan jurang kesenjangan yang melebar antara harapan masyarakat awam dengan kinerja auditor .
Perkembangan Audit Forensik
Profesi auditor tak henti-hentinya melakukan kajian untuk menanggapi hal ini dan mencari solusi untuk mengurangi dampak negatif yang mungkin terjadi . Albrecht 1) , mencatat bahwa akar masalah dari persoalan ini bisa diruntut sejak tahun 1930an , dimana telah terjadi perubahan mendasar tentang kesediaan auditor untuk menerima tanggung jawab bahwa dalam audit terhadap laporan keuangan juga sekaligus mencakup tugas mendeteksi fraud . Hal tersebut tercermin dengan terbitnya SAP No. 1 ( Statement on Auditing Procedure ). Cuplikan penjelasan dari SAP No. 1 adalah sebagai berikut :
The ordinary examination incident to the issuance of financial statements, accompanied by a report and opinion of an independent certified public accountant, is not designed to discover all defalcations, because that is not its primary objective, although discovery of defalcation frequently result…….
To exhaust the possibility of all cases of dishonesty or fraud, the independent auditor would have to examine in detail all transactions. This would entail a prohibitive cost to the great majority of business enterprises- a cost which would pass all bounds of reasonable expectation of benefit or safeguard therefrom, and place an undue burden on industry.
Munculny a SAP No. 1 ternyata membuat profesi auditor mendapat mendapat tekanan terus menerus dari masyarakat pengguna laporan keuangan yang menganggap auditor terkesan mempunyai peran yang sangat terbatas dalam mendeksi fraud ( auditor have only a limited role in detecting fraud ). Baru pada tahun 1960 ( notabene setelah 30 tahun sejak SAP No.1 diterbitkan ) AICPA memutuskan untuk mengkaji ulang SAP No. 1 dengan menerbitkan SAP No. 30. Cuplikan penjelasan SAP No. 30 :
The ordinary examination incident to the expression of an opinion on financial statements is not primarily or specifically designed, and cannot be relied upon, to disclose defalcations and other similar irregularities, although their discovery may result. Similarly, although the discovery of deliberate misrepresentations by management is usually more closely associated with the objective of the ordinary examination, such examination cannot be relied upon to assure its discover3) Albrecht mencatat bahwa SAP No.30 inipun hanya sekedar memberi penekankan bahwa auditor mempunyai kewajiban (was obliged to) “be aware of the posibility that fraud may exist” 4)
Episode selanjutnya gelombang ketidak puasan masyarakat pengguna laporan keuangan akan prestasi auditor agar mampu mengungkapkan fraud ditandai dengan terbentuknya The Cohen Commission, komisi
prestisius yang dibentuk era 1970an yang membuat rekomendasi agar auditor :
…… has a duty to search for fraud, and should be expected to detect those frauds that the examination would normally uncover .5)
Respons dari profesi atas rekomendasi komisi Cohen memunculkan SAS No. 16 pada tahun 1977 yang penjelasannya sbb :
Consequently, under (GAAS), the independent auditor has the responsibility, within the inherent limitations of auditing process…….. to plan his examination to search for ( material ) errors and irregularities6)
SAS No. 16 nampak dengan nyata bahwa auditor masih enggan berurusan dengan fraud . Albrecht dengan
manis melukiskan bahwa ….. auditors remained unwilling to accept or acknowledge a substantial responsibility for detecting fraud ! 7)
Pasca SAS No. 16, rupanya desakan masyarakat agar mereka tidak terperdaya dengan laporan keuangan yang nota bene telah di audit oleh auditor selalu mengemuka . Tanggapan profesi juga sangat positip dengan terbitnya berbagai standard dan statements , namun rupanya hiruk pikuk ini tidak akan pernah berakhir sampai kapanpun . Berikut ini tabel yang penulis sarikan tentang faktor pemicu dan respons dari
profesi tentang kontroversi tanggung jawab auditor dan fraud yang mungkin terjadi sejak SAP No.1 tahun
1930 , hingga SAS No.99 ( SAS paling mutakhir yang berkaitan dengan fraud ) yang terbit tahun 2002 – tidak lama setelah skandal Enron muncul dan terkaitnya salah satu big fives Public Accounting Firms yaitu Arthur Andersen yang kemudian kita ketahui bersama runtuh secara tragis.

Menjawab pertanyaan tentang kebutuhan Audit Forensik di Indonesia, konfigurasi di tingkat internasional di atas memberikan acuan kepada profesi auditor ( juga di Indoesia ) bahwa ketidak pedulian akan bahaya fraud yang tersembunyi dalam entitas atau korporasi yang diaudit , pada gilirannya akan menurunkan kredibilitas profesi , bahkan akan membinasakan profesi itu sendiri. Suatu diskusi panel yang diprakarsai oleh POB ( Public Oversight Board ) selama 2 tahun ( 1998 – 2000) melakukan suatu kajian dengan topik: Panel on Audit Effectiveness , panel yang diketuai oleh O’Malley atau yang lebih terkenal disebut O’Malley panel bahkan merekomendasikan sangat explisit :
(1) audit standards should develop a “forensic-type” fieldwork phase on all audits
(2) auditor should perform some forensic-type audit procedures on every audit to improve those prospects of detecting material financial statement fraud s/d (6)8)
Sekedar mengingatkan bahwa salah satu referensi handal di ranah auditing adalah karya monumental dari Prof. Mautz dan Prof Sharaf dalam bukunya yang ber judul The Philosophy of Auditing terbit tahun 1961’ buku tersebut telah di cetak ulang s/d 17 kali sampai dengan tahun 2002 ; menjelaskan hakekat audit adalah : “One of the primary purposes for conducting an audit is detection of fraud !” 9) . Demikian juga merujuk pada survey tahun 200 yang dilakukan oleh Erns & Young menunujukkan bahwa : Most (80%) organizations that utilize the work of forensic accountants expressed their satisfaction with the peformance of forensic accountans, Investigating in preventing and detecting fraud.!!! (Zabihollah Rezaee, Financial Statement Fraud,
John Wiley & sons -2002 )10).-
Jakarta Maret 2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *